Apa yang dapat Anda lakukan ketika pernikahan ‘di ambang kehancuran’?

Apa yang dapat Anda lakukan ketika pernikahan ‘di ambang kehancuran’?

Mar 10, 2022 by Equen

Sejumlah pasangan suami istri merasa ‘jarak’ di antara mereka yang berdampak lebih pada hubungan mereka, dibanding perceraian, ujar sejumlah peneliti.

“Sejujurnya saya tidak tahu apakah saya masih menikah atau sudah bercerai,” kata Kamal*. Konsultan telekomunikasi London itu telah menikah dengan istrinya Thuraya selama dua puluh tahun dan memiliki dua putra.

Apa yang dapat Anda lakukan ketika pernikahan 'di ambang kehancuran

Pria berusia 46 tahun itu gemar berkomentar soal sosial dan politik dan memiliki ratusan pengikut Facebook. Tetapi ketika berbicara tentang hubungannya dengan istrinya, ia mengatakan telah “mengalami penurunan: dari cinta yang penuh gairah ke rasa saling menghormati seperti dengan rekan kerja”.

“Semuanya berawal setelah kelahiran putra pertama kami. Tampaknya ketertarikan emosional dan seksual hilang,” katanya.

“Saya mencoba mengerti ketika dia memilih untuk tidur secara terpisah, bahkan berbulan-bulan setelah kelahiran putra kami. Saya terus mengatakan itu pasti hormon atau perubahan suasana hati pascakelahiran.

“Saya berkonsultasi dengan beberapa ahli, terutama karena tampaknya hal itu terus berlanjut. Dengan kelahiran putra kedua kami, dia sepertinya tidak menginginkan kontak emosional atau seksual di antara kami.”

Kamal ingat bagaimana istrinya pernah memintanya untuk “berhenti bertingkah seperti remaja” ketika dia berbicara tentang perlunya romansa dalam pernikahan.

“Ketika saya mencoba mendekatinya, dia berkata saya harus bersikap seperti seorang ayah sekarang,” tambahnya

“Thuraya berpikir dia menjadi istri yang ideal karena dia merawat anak-anak. Saya pikir dia melakukan pekerjaan yang sangat baik sebagai ibu dan ibu rumah tangga – tetapi hanya itu saja.”

Rasa frustrasi Kamal segera muncul. Dia merasa tidak diinginkan dan mulai menarik diri. Dia sering berdiam diri di kamarnya dan bermain Facebook.

Sejumlah teman perempuannya di Facebook menganggapnya menarik.

Dia kadang-kadang memainkan alat musiknya dan mempostingnya di halaman Facebook-nya. Ketika banyak orang yang menyukai postingannya, dia “mulai merasa percaya diri lagi”.

Apa yang dimulai sebagai komentar Facebook segera berkembang menjadi “kontak romantis dan seksual”, kata Kamal.

“Saya merasa sulit menolak wanita muda menarik yang menunjukkan minat pada saya, pada saat saya merasa ‘mati’ secara emosional dengan pernikahan yang ‘tak bernyawa’.”

Kamal yakin dia tidak sendirian dalam situasi ini: “Orang-orang mungkin menghakimi saya, tetapi saya bukan satu-satunya. Ada banyak lagi orang yang seperti saya – banyak dari mereka di antara kenalan saya.”

Dia telah mengembangkan kehidupan ganda sebagai “ayah dan suami yang sempurna”, tapi dia bertemu “cintanya” di akhir pekan.

Daripada mencoba mencari alasan, sosiolog Hamid al-Hashimi mengatakan lebih baik bagi Kamal “untuk secara terbuka mendiskusikan kebutuhannya dengan istrinya”.

“Dia seharusnya mengatakan pada istrinya, ke mana hubungan itu akan berakhir, jika masalah itu dibiarkan,” kata al-Hashimi.

“Seringkali cara terbaik adalah menemukan jalan tengah; kompromi untuk kedua belah pihak untuk membantu mencegah kesalahan dan rasa terasing yang semakin meningkat.”

Al-Hashimi menekankan bahwa kedua pihak berperan dalam hal itu.

“Istri tidak seharusnya mengabaikan kebutuhan seksual dan emosional dalam perkawinan- sesuatu yang wajar dan esensial untuk mempertahankan cinta.”

Terapis Amal al-Hamed mengatakan penting bagi orang-orang itu untuk berhenti mengatakan “kami sudah melakukan semua yang bisa dilakukan”.

“Tidak ada gunanya saling menyalahkan dan merasa sebagai korban,” katanya.

Sebaliknya, ia menyarankan suami istri untuk memikirkan hal-hal baik, bahkan kenangan masa lalu dan saat mereka berhasil mengatasi kesulitan bersama.

“Masing-masing harus mencoba mengambil inisiatif dalam hubungan itu. Pikiran positif itu menular,” tambahnya.

Baca juga : Cara Memandikan Kucing yang Wajib Kamu Ketahui

Merasa bersalah

Mitra dan Rustam adalah pasangan Iran berusia empat puluhan. Pasangan dengan dua putri remaja tinggal di Birmingham sejak 2005.

Sepuluh tahun yang lalu, Mitra didiagnosis menderita kanker payudara, yang diikuti kanker rahim.

Penyakit itu menyebabkan ia kehilangan satu payudaranya, ovariumnya dan rahimnya. Hal itu sangat memengaruhi energinya dan meningkatkan kecemasannya.

Operasi-operasi itu menghancurkan gairah seksnya, katanya.

“Sekarang satu-satunya jendela kehidupan saya adalah putri-putri saya,” ujarnya.

Dia tidak percaya ketika suaminya mencari cinta di tempat lain.

Ketika dia mengetahui hal itu, dia memberi pilihan pada suaminya : dirinya atau wanita lain.

Suaminya memilih untuk bersamanya karena “tahu dia akan kehilangan putrinya jika dia memilih wanita lain”.

“Jika penyakit itu terjadi pada suami saya, saya akan berdiri di sisinya sampai akhir. Pernikahan harusnya untuk keadaan yang lebih baik, maupun yang lebih buruk. Mungkin pria harus belajar untuk tidak terlalu egois,” tambahnya.

Meski demikian, Mitra mengakui bahwa dia merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi kebutuhan suaminya.

“Sementara itu saya tidak bisa menerima dia meninggalkan saya. Sebagai seorang wanita saya tidak bisa merasa tidak diinginkan.”

Untuk saat ini, Rustam menemukan hiburannya di buku.

“Dia hampir tidak melakukan apa pun selain bekerja. Dia selalu diam. Bahkan putrinya mengatakan dia membosankan,” kata Mitra.

Meskipun sangat membutuhkan konseling perkawinan, banyak pasangan di Asia dan Barat yang merasa hal itu seakan ‘menelan pil pahit’.

Dukungan finansial

Samar, 29, meninggalkan Suriah ke Turki pada 2015. Dia menikah dengan seorang pria Turki untuk melindungi diri dari pelecehan, yang kerap terjadi pada pengungsi.

Dia pikir pernikahan adalah “satu-satunya solusi yang layak” tetapi terkejut mengetahui latar belakang suaminya yang sangat berbeda.

“Seluruh hidup saya adalah untuk mengurus anak-anak, memasak, membersihkan rumah, dan memenuhi tuntutannya,” katanya kepada BBC.

Suaminya bahkan tidak mengizinkannya mengunjungi tetangga tanpa izin.

Satu-satunya alasan dia bertahan dalam pernikahan itu, katanya, adalah karena kondisi keuangan suaminya yang baik, yang memungkinkan dia merawat kedua anaknya.

“Jika saya memiliki cara lain, saya tidak akan tinggal bersamanya satu hari pun. Saya tidak pernah diperlakukan seperti ini ketika saya bersama keluarga saya. Pendapat, martabat, perasaan saya tidak ada artinya di sini.”

Diam-diam menikah

Rouj, dari Erbil, mengatakan ayahnya, 60, tidak tidur seranjang dengan ibunya, 47, selama beberapa dekade.

Ibunya sadar bahwa ayahnya “diam-diam menikah dengan wanita lain”, tetapi memilih untuk menyembunyikan semuanya.

Dia tidak tahan dengan gosip yang akan muncul jika situasinya diketahui.

“Ayah saya adalah orang kaya dan itulah satu-satunya alasan mengapa seorang wanita berusia 30-an setuju untuk menikah dengannya. Ibu saya kuat dan mandiri secara finansial, tetapi dia tidak mau meminta cerai agar tidak menodai keluarga kami.”

“Dia ingin menjaga harga dirinya,” kata Rouj.

Ibunya telah menderita secara emosional selama bertahun-tahun tetapi dia merahasiakannya karena dia tidak ingin terlihat sedih, kata Rouj.

Ibunya menolak untuk mencari nasihat hukum karena dia ingin menjaga rahasia pernikahan suaminya dengan perempuan lain.

Cara untuk kembali

Al-Hamid melihat keinginan kedua belah pihak untuk memperbaiki keadaan sebagai satu-satunya jalan keluar.

“Jika salah satu dari mereka memarginalkan yang lain, atau saling menyinggung, segalanya hanya akan bertambah buruk. Mereka perlu berbicara secara terbuka dan memilih kata-kata dengan hati-hati. Kalau tidak, kondisi yang ada semakin buruk.”

Kadang-kadang, menurut al-Hamid, satu pihak mencoba untuk mengubah keadaan, sementara yang lain ingin mempertahankan keadaan yang ada, hal yang menggagalkan upaya untuk memperbaiki keadaan.

Untuk mengatasi itu, kedua pasangan perlu belajar untuk tidak membiarkan hal-hal menumpuk.

Mereka harus sering berbicara, menggunakan bahasa yang tepat agar tidak menyinggung, tambah al-Hamid.

Ia juga menyarankan baik istri maupun suami untuk memulai perubahan.

“Jika suami enggan memberi istri kejutan, istri bisa berinisiatif memberi suami hadiah. Daripada hanya membalas, sebuah inisiatif dapat menjadi sangat bermakna,” katanya.

“Yang paling penting adalah jangan menyerah, terus berusaha,” simpulnya.

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,